• gambar
  • gambar

Selamat Datang di Website MI MUHAMMADIYAH KALIBENING. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


MI MUHAMMADIYAH KALIBENING

NPSN : 60711159

Jl.Krajan, Kalibening Dukun Kabupaten Magelang


mimkalibening.sch.id

TLP : 085641513813


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 5405
Pengunjung : 2378
Hari ini : 9
Hits hari ini : 17
Member Online : 0
IP : 54.82.10.219
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Sukses Mengelola Lembaga Pendidikan




 

Oleh Edi Martani, M.Pd.I *

Hasil obrolan sesaat sore tadi di Aula MTs kebanggaanku, tersirat berbagai permasalahan yang perlu dituntaskan. Kita tidak bisa melihat masalah tersebut dari satu sisi. Karena kompleknya permasalahan pengelolaan lembaga pendidikan, adanya tuntutan dari pengguna alumni serta ketatnya persaingan antar lembaga. Hal tersebut diperlukan kearifan dalam menyikapi dan menentukan arah kebijakan, baik jangka pendek menengah maupun jangka panjang.

 

Banyak praktisi pendidikan mengatakan "mudah mengatakan; mengelola pendidikan itu susah". Dan Kebanyakan dari kita mengatakan "susah mengatakan; mengelola Pendidikan itu mudah". Bagi kita, mungkin repot menafsirkan dua pernyataan tersebut.

 

Secara garis besar, mengelola pendidikan itu mudah. Asal tahu strategi dan trik pengelolaannya. Dalam pendidikin, unsur yang dikelola dibedakan menjadi 2 yaitu benda hidup dan benda mati. Termasuk benda hidup adalah guru, murid, orang tua dan komite. Sedangkan benda mati diantaranya adalah gedung (ruang kelas, kantor dll), media dan sumber pembelajaran.

 

Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Sehingga diperlukan hubungan saling membutuhkan dan saling melengkapi. Tanpa mengunggulkan diri sendiri dan menjatuhkan yang lain. Kita ambil sebuah contoh, sepandai dan setinggi apapun pendidikan seorang guru. Tanpa murid, tentunya kepandaian dan pendidikan guru tidak bermakna. Demikian juga, semegah apapun bangunan sekolah. Tanpa murid, tentu tidak akan menjadikan lembaga tersebut berjalan.

 

Banyak lembaga pendidikan yang nyaris gulung tikar, bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan yang _la yamutu wa la yahya_. Alasan klasik banyak dilontarkan oleh kebanyakan dari kita, diantaranya:

1. Letak sekolah tidak strategis. Alasan ini sangat dominan, mulai dari bangunan yang tidak berada di tepi jalan raya. Mungkin juga karena gedung sekolah dihimpit oleh perumahan warga sekitar.

2. Komite dan pengurus sekolah tidak berperan sebagaimana mestinya. Alasan tersebut muncul, ditandai dengan disharmoni hubungan dewan guru dengan komite atau pengurus sekolah. Sudah sepantas dan sewajarnya kepala sekolah menggandeng dan selalu menyertakan komite/pengurus dalam setiap kali menentukan kebijakan sekolah.

3. Guru yang belum sejahtera dan bekerja setengah hati. Alasan ini sering muncul ditengah-tengah kita. Karena gaji guru belum memadai bahkan masih dibawah UMR, sehingga mereka beranggapan sah-sah saja ketika guru melakukan pekerjaan sampingan. Bahkan nyaris menomorduakan tugasnya sebagai seorang guru.

4. Orang tua yang acuh dengan pendidikan anaknya. Menyekolahkan anak merupakan suatu keniscayaan bagi setiap orang tua. Terkadang orang tua terlalu mudah menyerahkan tanggung jawab pendidikan anaknya pada lembaga pendidikan. Ibaratnya mereka memasukkan motornya di sebuah tempat pencucian motor. Ditinggal belanja atau jajan, kemudian satu jam berikutnya dia ambil motor tersebut dengan penuh harap motornya telah kinclong seperti baru. Ternyata ada satu noda yang menempel pada dashboard motor tersebut, selanjutnya tentu omelan yang akan diterima oleh tukang cuci motor tersebut. Padahal noda tersebut menempel sejak motor dikeluarkan dari rumah.

 

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang muncul mengiringi upaya dalam mengelola pendidikan. Kalau semua menyadari adanya komunitas yang saling melengkapi, saling membutuhkan, dan saling menguntungkan, tentu alasan-alasan tersebut bisa dijadikan kerangka dalam menentukan arah dan kebijakan sebuah lembaga pendidikan.

 

Selanjutnya, bagaimana upaya yang bisa dilakukan sekolah dalam memajukan sebuah lembaga pendidikan akan kami hadirkan dalam tulisan lain

 

 

 

*Penulis adalah alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam.





Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas